Home » , » Ketergantungan Ekonomi Negara Miskin

Ketergantungan Ekonomi Negara Miskin


Dewasa ini, setiap Negara terlibat dalam pembagian kerja ekonomi dunia karena tak ada pilihan lain yang realistis untuk menghindari itu, mengingat jumlah penduduk dunia lebih kurang sebanyak 6,3 miliar orang. Setiap Negara mempunyai beraneka ragam hubungan perdagangan dan keuangan dengan Negara-negara lain yang hendaknya ada keseimbangan antara satu Negara dengan Negara yang lain.
Semua itu dipantulkan oleh Neraca Pembayaran (balance of payments) yang terdiri atas neraca hasil ekonomi (current account) dan neraca modal (capital account). Neraca hasil ekonomi jauh lebih penting karena mencerminkan data ekonomi riil. Sementara neraca modal hanya melaporkan keluar dan masuknya modal serta tingkat utang luar negeri.
Dalam hal ini Negara berkembang lebih tergantung lagi pada sistem keuangan internasional yang meluas sangat pesat karena terciptanya banyak bentuk keuangan baru dan semakin terancam oleh spekulasi yang sulit dikendalikan. Pasar moneter internasional ini sangat mempercepat dan mempertajam guncangan seperti krisis Asia tahun 1997 yang menerjang Indonesia, Krisis Amerika beberapa waktu lalu bahkan saat ini juga (ahir tahun 2011) kita diancam serangan krisis di Eropa yang diperkirakan akan meledak pada tahun 2012. Mekanisme sistem itu juga ikut menambah beban utang Negara-negara, walaupun berulang kali diadakan restrukturasi dan sejumlah utang dihapuskan (seperti Yunani) sehingga menggoda sejumlah Bank untuk menjalankan praktik bisnis yang tidak aman terhadap Negara-negara tersebut dan bahkan berdampak terhadap Negara lain.
Oleh sebab itu, banyak berutang tinggi kehilangan kepercayaan para kreditor, tidak sanggup lagi memenuhi kewajiban utang mereka, dan ahirnya masuk perundingan tentang restrukturasi utang dengan IMF dan piutang-piutang mereka. Upaya memulihkan kepercayaan dengan menyesuaikan struktur ekonomi yang disyaratkan oleh IMF akan menjerumuskan banyak Negara kedalam resesi ekonomi, pengangguran serta kekurangan penyediaan barang dan jasa pokok. Itu semua merupakan beban paling berat yang harus dipikul oleh kaum miskin, seperti menyusutnya jaminan social, pembekuan gaji dan upah serta naiknya harga pangan dan angkutan umum. Dan ahirnya menciptakan iklim polotik yang menekan dan member badai kepada gerakan-gerakan fundamentalis.
Keadaan yang terjepit seperti itu, tidak mengherankan jika banyak Negara yang berupaya menghasilkan devisa dengan cara pintas, seperti pembabatan hutan tropis, penanaman produk agraris untuk ekspor dengan mengabaikan pertanian serta yang paling membuat miris adalah penjualan Narkotika.
Mengingat keadaan susah tersebut, terutama Negara-negara yang paling miskin sangat membutuhkan Bantuan Pembangunan Resmi dalam bentuk tunjangan yang tak perlu dibayar kembali (grants) atau pinjaman dengan syarat lunak. Hibah itu juga bisa dipandang sebagai imbalan kecil bagi kerugian mereka dalam perdagangan internasional. Itu juga memperketat syarat-syarat bantuan karena bantuan itu dipusatkan pada beberapa Negara saja yang strategis dan penting. Tendensi yang jauh lebih memprihatinkan adalah menyusutnya perhatian umum pada masalah-masalah perkembangan masyarakat di Negara-negara paling miskin.
Bantu Share Artikel Ini-> :

Mohon luangkan sedikit waktu untuk memberikan Komentar

 
Support : Komunitas Blogger Lampung | Artikel KBL
Copyright © 2011-2014. Artikel Terbaru - All Rights Reserved | Privacy Policy | Redaksi
Template by Rhodoy | Contact
Proudly powered by Blogger